Sebuah Do’a

January 5th, 2007 by muslimah-dr

Icon_pray_r

“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya. Dari bawahku cahaya. Ya Allah berikanlah kepadaku cahaya dan jadikanlah aku cahaya.”

(HR Muslim dan Abu Daud)

2007…!!!

December 31st, 2006 by muslimah-dr

Pukul 24.00 WIB, di beranda lantai 3…

Terdengar sirine penanda pergantian akhir tahun, entah darimana asalnya…yang pasti saat itu aku sedang menikmati panorama indah malam hari kota jakarta dari beranda tersebut.

Tak lama setelah itu, terlihat berbagai macam kembang api bertaburan di langit….Wuahhh Keren!!

Kalau begini sih tak usah capek2 ke Ancol tuk ngeliat kembang api, my hidden place serves it!

Subhanallah…sambil terpesona melihat keindahan ‘bintang buatan’ itu, tak lupa kuselipkan do’a kecil…agar di tahun 2007 bisa menjadi lebih baik lagi…amiin…

Yah, intinya malam ini aku cukup senang…bertemu handai tolan…lalu menikmati suasana tahun baru di beranda lantai 3 rumahku…(jangan lupa tahajud yu!he3x…)

Wilkommen 2007!!

:. yang punya resolusi di tahun ini, yuks…kita wujudkan! =)

Dzikir Alam

December 29th, 2006 by muslimah-dr

Lantai3editan

”Ketika kau telah merasakan kelelahan yang sangat, sehingga kau beranggapan bahwa segala yg kau usahakan sia-sia belaka. Yakinlah, bahwa sebenarnya pintu keluar masalah sedang terbuka untukmu..”

(Ayu—akhirnya bisa bikin own quote!)

30 Desember 2006, penghujung tahun.

Dalam puncak kepenatanku terhadap berbagai deadline tugas yang menumpuk…

Ketika aku merasakan penat dan lelah, biasanya aku akan duduk di bangku luar beranda/balkon lantai 3 rumahku. Di sana, aku akan sejenak menatap arakan awan di langit, pesawat yang melintas, layang-layang, mendengar kicauan burung di atap rumahku, merasakan hembusan angin sejuk menerpa jilbabku, mendengarkan suara adzan kala waktu shalat tiba, melihat berbagai macam aktivitas manusia di bawah sana, serta melihat cakrawala indah yang dapat membuang semua kepenatanku.

Ketika sore hari menjelang, aku dapat melihat matahari terbenam…lembayungnya yang indah menyelimuti seluruh sendi kehidupan, mengisyaratkan manusia untuk bersiap istirahat. Jingganya menyilaukan mataku, cahaya lembutnya menerpa hangat pipiku. Terpekur aku memandang ciptaan Ilahi, subhanallah ya…

Ketika malam tiba, ku biasa memandang ratusan bintang di langit, ditemani hembusan angin malam yang menyejukkan. Bulan kadang malu untuk muncul di atasku, ia lebih menikmati berada di belakang awan. Ah, bulan…padahal aku merindumu…mungkin karena kau terlalu cantik untuk dipandang, sehingga kau pun malu memunculkan diri.

Ketika hujan datang, aku lebih menikmati alunan nada indahnya ketika ia menyentuh genteng rumahku, bermain dengan percikan airnya, merasupi aroma kesejukannya, indah pelanginya selalu kunanti…menghadirkan sketsa menakjubkan Sang Pencipta menemani kesendirianku di beranda tersebut.

Sejenak berada di sana, membuatku memiliki sebuah energi baru untuk hidup, dan bersiap menghadapi kembali pahit manis kehidupan.

Terima kasih, Allah…untuk sebuah kesempatan mendengarkan dzikir alam-Mu…

Alam menghadirkan simfoni tersendiri bagi para pengagumnya, hadiah dari Sang Pencipta untuk manusia yang rindu menatap-Nya…dapatkah kau mendengar dzikirnya alam, sahabatku? Mari sejenak mendengarkan…

-Originally writing by Ayu-

:. Ah, hujan lagi hari ini…senangnya…=)…

Hai dunia! aku datang lagi dengan semangat baru!!

Modul Muskulo, Riset, dan pelantikan TBM

December 9th, 2006 by muslimah-dr

Assalamu’alaikum…

Wuaah…di saat pegal2 begini abis latihan fisik kemarin, malah nge-post gak jelas…iseng…sekedar menumpahkan rasa (boleh dong..)

Senin besok, dah masuk modul muskuloskeletal…hmmm, ngeliat buku BPKM yg nyaingin buku rujukan, jadi bertanya2 nih, akan sesusah apa sih modulnya?

Yg katanya materi faalnya banyak, yg katanya hapalan anatominya ’mematikan’, yg ada materi pembacaan EKG waktu KKD, visum et repertum (visum mayat), yg ada ujian essaynya dan semua yg pernah kudengar ttg modul ini….

Udah tau gitu, rencananya ingin mencicil selama seminggu ini, eh…gak kesampaian…malah asyik berkutat dengan tugas organisasi dan riset…apa mau dikata?

Satu yg kutahu, aku tak boleh menyerah. Sesusah apapun modul yg ada di hadapan, kita harus selalu siap…karena itu tugas kita sebagai dokter di masa depan. Kita tak mungkin menghindar. Kita telah menginjakkan kaki di FKUI ini, maka kita harus siap menerima segala sesuatunya. Bila hari ini kita sempat kehilangan semangat, ingatlah dulu semangat kita swaktu mengikuti SPMB, bagaimana kerasnya kita berusaha agar kita lolos pilihan bernomorkan ”220142”, masih ingatkan kawan?  =)

Seperti lirik lagunya Letto, ”Kalau kau ingin berhenti, ingat dulu mulai lagi…tetap semangat..dan teguhkan hati di setiap hari sampai nanti..sampai mati..”

Ya…jika kau sudah punya tekad, maka teguhkan hati, lalu langkahkan kakimu, sampai tercapai keinginanmu…OK?

Untuk kelompok risetku, RISET 0105 tercinta. Anita, ratna, silvi, winu, vika…

Terima kasih selama seminggu ini sudah menyempatkan waktu untuk mengerjakan uji laboratorium. Suka duka kita bersama saat menjalani riset itu. Ketika dimarahin oleh dosen2 biokimia, saat kita dihadapkan oleh sampel yg hampir gak valid (semoga gak), yg bingung dengan mekanisme ijinnya, yg ketumpahan radikal bebas (gimana tuh? Semoga gak kenapa2 ;P), foto2 kita saat di laboratorium (narsis tetap jalan y? He5x..), n semua yg bikin kelompok kita jadi kayak nano-nano…semuanya jadi pengalaman buat kita. Ingat, perjuangan kita untuk sampai di sidang masih panjang. Tetap semangat ya…hari senin jangan lupa kita uji lab sampel sisanya, kalau perlu uji ulang Trolox, BHT, dan vitamin C…ok, ok?

Untuk vika semoga cepat sembuh ya…tomatmu sudah menunggu untuk diuji lab, he5x…

Untuk caang2 TBM, seminggu lagi kita akan menghadapi pelantikan…udah siap belum untuk naik gunung? Jangan lupa tetap olah raga! Gimana push-up, back-up, sit-up 100Xnya? Pererat konsolidasi tim kita y…tunjukkan bahwa kita adalah satu tim. Bukan aku, kamu, mereka, kami, kalian…tapi KITA. Kita sebagai tim…sewaktu pelantikan, sewaktu menjadi angmud, sewaktu menjadi angti, sewaktu menjadi angpur, selama hidup ini terus bergulir. Semangat ya!! Keep on moving!

Kok jadi curhat ya? He5x…udahan dulu deh…semoga postingan ini bermanfaat…

Wassalamu’alaikum

”Bertekadlah untuk melakukan apa yang harus dilakukan tanpa ketakutan dan keraguan. Bersikaplah berani dan penuh pengharapan. Percayalah pada Allah dan kepada semangat keberanianmu sendiri.”

:. Originally writing by Ayu

Aku memang manusia, yang tak mungkin harus selalu putih. Aku pun tak ingin, terlukis hitam lagi…

Sekedar Rasa…

November 20th, 2006 by muslimah-dr

Aahh…aku menangis lagi hari ini

entah kenapa…cengeng sekali ya…hiks2x…

Hari ini, begitu banyak kebaikan terlewatkan

begitu banyak amanah yang kusiakan…

tapi lebih dari itu, aku lelah…….

untuk kesekian kalinya…

mencapai titik kulminasi diri

dan seyogyanya wanita…

hanya menangis yang bisa membuatku lega…

kadang kuberkata pada diri, "hey, cengeng sekali kau, Ayu!!"

"Baru begitu saja sudah menangis, kau belum berbuat apa-apa! Kau belum menggapai surga! lalu mengapa sekarang kau berhenti, lalu mulai menitikkan air matamu..?"

"Lihatlah!!! Di luar sana, lebih banyak orang yang pantas untuk menangis dan mengeluh ttg nasib yg tak berpihak pada mereka! Namun, mereka tahu…karena hanya menangis dan mengeluh takkan menyelesaikan masalahnya! Mereka memilih untuk tetap berusaha dan bekerja, tak ada waktu untuk mengeluh!"

Ya…lebih baik kuusap air mata ini

biarlah air mata ini hanya penanda sekedar rasa

yang sempat tertumpah

kala diri inginkan bebas dari masalah…

karena ku sepenuhnya sadar…

masalah pun adalah bagian dari hidup

jika kau tak punya masalah, kau bukan manusia…

dan ku sepenuhnya yakin…

hadiah dari Allah di balik segala kesusahan tersebut…

Biarlah…

air mata ini menetes walau sejenak

hanya sebuah penanda sekedar rasa

sebuah penanda…

bahwa aku hanyalah manusia lemah….di hadapan-Nya…

:.Allah, aku berserah diri hanya pada-Mu…teguhkanlah hatiku…

Belajar dari Anak Kecil

November 3rd, 2006 by muslimah-dr

My_cousins_2

"Kaki kecil melangkah menapak bumi yang indah

seakan tiada beban hidup di dunia

wajah polos yang cerah menyapa ramah sesama

angin lembut menerpa selembut hatinya

Oh indahnya hidup, seperti mereka

yang tiada dengki iri hati damainya…."

Benar apa yang dikatakan salah satu dosenku dalam kuliahnya pada modul kemarin, "Anak bukanlah miniatur orang dewasa". Sehingga perlakuan kita pada anak kecil pun seharusnya menghargai keberadaan dia sebagai insan, yang mempunyai hak2nya. jangan kita perlakukan dia layaknya ‘orang dewasa dalam bentuk anak2′. Bagaimanapun mereka masih belajar ttg hidup ini. Mereka baru menghabiskan beberapa tahun hidup di dunia. Maka, jangan serta merta menyalahkan mereka akibat kesalahan yang mereka perbuat.

Bagi kita kebanyakan, untuk belajar dari anak kecil seakan sesuatu yang dianggap remeh. Jika kita berpendapat begitu, saya bisa katakan bahwa kita salah!! karena hari ini, Allah menyadarkan saya…bahwa anak kecil pun mempunyai suatu pemikiran yang dahsyat. Dalam kepolosannya, ternyata ia mampu menyelesaikan suatu masalah, tanpa intervensi kita sama sekali.

2 November 2006, pukul 21.00 WIB, di kediaman keluarga:

Ya, ampun!! berisik sekali malam ini. Padahal aku besok ada ujian. Sumbernya?Hmm…as usual, adikku yang sedang main dengan beberapa sepupu kecilku yang baru datang malam ini dari luar kota. Wajar sih jika mereka lalu bermain dengan riangnya, seakan melupakan semua keletihan dalam perjalanan pulang. Tapi berisiknya itu lho! Padahal aku sudah menutup pintu kamarku. Ternyata hal itu tak mempan sama sekali. Hffuhhh…aku pusing dibuatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Diktat2 di atas meja belajar menunggu untuk kubaca. Tapi tetap, konsentrasiku masih tertuju akan kebisingan di luar kamarku. Berkali-kali pula aku mencoba menenangkan mereka.

"Duh, dah malam nih, kalo mau main besok aja y.."

"Eh,, gak boleh berisik dong malam2! Besok kan masih sekolah, ayo belajar"

"Tuh, kamu matanya dah ngantuk, tidur aja deh dek…"

"Hayoo, ingat kata mama kalo malam2 harus belajar lho! waktu mainnya dah habis.."

Bla…bla…bla…bla…

Tak mempan. Aku menghela napas di dalam kamar. Suaraku teredam oleh teriakan2 dan candaan mereka. Akhirnya aku pasrah dan mencoba membaca sisa diktat semampunya. Begitulah mereka kalau sudah bertemu sesamanya. Seakan lupa dengan dunia luar. Daripada menyakiti pita suaraku, lebih baik aku mulai belajar. Soal apakah hipokampus dalam otakku mampu menghasilkan memori ttg pelajaran malam ini?? Pasrahkan saja pada Penciptanya…

Tak lama kemudian, satu dari mereka mulai menangis. Tuh kan, pasti begini deh akhirnya. Aku ingin membuka pintu kemudian menasihati mereka. Namun, terlintas dalam benakku perkataan yang pernah dilontarkan oleh seseorang padaku, "Biarkan anak menyelesaikan permasalahannya sendiri. Dengan begitu, anak akan belajar bagaimana bernegosiasi, memikirkan solusi atas masalahnya, dan membentuk kemandirian mereka. Kita intervensi sejauh jika ia membutuhkan bantuan kita saja." Hmmm, entah kenapa perkataan tersebut muncul tiba-tiba. Maka, aku memutuskan utk berdiam di kamarku. Mendengar apa yang akan terjadi kemudian….

Tangisan itu semakin keras. Tanganku gemas utk membuka pintu. Namun, terdengar mereka semua berupaya utk mendiamkan si kecil (rupanya yang nangis sepupuku yang paling kecil).

"Aduh, maaf ya ci…gak sengaja kepukul pake bantal"

(oh rupanya mereka sedang main perang bantal, sang pelaku, Dias, berupaya meminta maaf)

"Oci kuat kan..kuat dong! harus kuat ya!!"

(shabira, sepupuku yg juga masih kecil n cadel berupaya memberi semangat..he3x..lucu jg)

"Shabira,diemm…ntar dia nangis lagi!"

(adam, adikku..ternyata tak ingin timbul masalah baru, penanganan masalahnya lebih ke arah prognosis ke depan)

"Aduhh…aku tak tahu hidupku akan jadi begini, ada yang baik…ada juga yang buruk.."

(Hwe…kalimat seperti ini bisa muncul dari mulut anak kecil? Ckckck, sepupuku Nasya berbakat jadi filosof, walau dia masih 5 tahun…penguasaan kata2nya hebat!)

"Udah..sini aku bacakan cerita untukmu ya.."

(adam berkata lagi lalu mulai membacakan cerita. Karena ia belum mahir membaca, jadinya ia buat cerita versinya sendiri…imajinasinya bagus juga, ceritanya oke)

"Adam…bukan begitu ceritanya yang aku baca…ngarang nih"

(Dias, yg paling besar di antara mereka berpendapat)

"Iya nih ngarang…hahaha" (semua tertawa)

See? selesai sudah masalahnya. Tak ada tangisan lagi. Tinggal aku yang tersenyum simpul di balik pintu. Mengenang kembali pemecahan masalah yang telah mereka buat. Sederhana. Yang mereka butuhkan hanya rasa saling bertanggung jawab utk menyelesaikan masalah serta rasa kasih sayang antara mereka. Subhanallah…=)

Andaikan kita bersikap mampu setulus mereka

Yang tak kenal ketamakan

hanya cinta kebenaran

Andaikan kita melihat mampu sejujur mereka

Yang tak kenal perpecahan

hanya cinta kedamaian…..–gradasi, potret kedamaian–

:. utk Dias, Adam, Nasya, Shabira, Oci…dan semua adikku, moga Allah selalu memberkati langkah kalian dalam menapaki kehidupan ini…

-Ayu-

yang masih belajar utk jadi kakak yang baik…

Dermaga Hati

October 30th, 2006 by muslimah-dr

Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!


Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk
selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

( Judul Puisi " Pelabuhan " karya Tyas Tatanka,
kumpulan puisi 7 penyair serang)

:. Untuk seseorang yg saat ini memintaku tuk jadi pelabuhannya, maaf…aku belum bisa menjadi pelabuhan hatimu utk berlabuh…

Mual pada Kehamilan, Mekanisme Protektif!!

October 30th, 2006 by muslimah-dr

Hari ini aku membuka kembali buku ”Complication” karya Atul Gawande yang belum sempat kuselesaikan karena kesibukan kampus. Salah satunya ia membahas tentang mual pada masa kehamilan. Nice to read!

Apakah perasaan mual yang begitu aneh dan menyiksa itu? Masalah ini kurang mendapat perhatian dalam pendidikan dokter, padahal muntah merupakan keluhan yg paling sering, setelah nyeri, yang membuat orang pergi ke dokter. Gejala ini juga merupakan efek samping yang khas dari obat. Untuk pasien bedah, muntah setelah pembiusan juga merupakan hal yang biasa sehingga baskom khusus untuk muntah harus selalu tersedia di samping tempat tidur di ruang pemulihan. Sebagian besar pasien yang mendapatkan kemoterapi selalu mengalami mual, dan mereka selalu mengatakan bahwa itu adalah bagian yang terburuk dari pengobatannya. Sekitar 60-85% wanita hamil mengalami mabuk pagi atau ”morning sickness”, dan sepertiga dari mereka yang bekerja terpaksa tak masuk kerja karena perasaan mual ini. Pada sekitar

lima

dari seribu wanita hamil, kondisinya sangat berat sehingga menyebabkan penurunan berat badan yang cukup besar—keadaan ini disebut hiperemesis kehamilan.

Rasa mual dan muntah yang sangat tidak menyenangkan itu memang ada manfaatnya secara biologis. Muntah setelah memakan sesuatu yang beracun atau yang busuk jelas ada manfaatnya; racun itu dikeluarkan. Dan perasaan tak enak akibat mual yang biasanya menyertai kejadian itu membuat kita takkan mau makan makanan seperti itu lagi. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak obat, kemoterapi, dan anestetik umum sering menimbulkan mual dan muntah: semua itu barang beracun—walau yang digunakan secara terkendali—dan tubuh manusia dirancang untuk menolaknya.

Sulit untuk menjelaskan mengapa beberapa hal menyebabkan mual dan muntah, tetapi para ilmuwan mulai menyadari adanya kewajaran dalam rancangan alam. Kita mengira bahwa mabuk kehamilan, misalnya, merupakan suatu keadaan yang secara evolusi merugikan, sebab mudgah (embrio) yang sedang tumbuh itu memerlukan zat gizi. Namun, dalam sebuah tulisan terkenal pada tahun 1992, seorang ahli biologi evolusi, Margie Profet, mengemukakan argumentasi bahwa mabuk kehamilan sebenarnya sesuatu yang bersifat melindungi. Ia mengatakan bahwa makanan alami yang aman untuk orang dewasa sering tak aman untuk mudgah.

Semua tanaman menghasilkan racun, dan dalam upaya agar kita dapat memakannya, tubuh berevolusi mengembangkan sistem penetralan racun (detoksifikasi). Tetapi, sistem ini tak menyingkirkan racun kimiawi secara keseluruhan, dan mudgah bisa jadi peka terhadap jumlah racun yang sangat kecil. (Sebagai contoh, racun kentang terbukti dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan syaraf pada janin hewan, walaupun pada kadar yang tak meracuni induknya; mungkin saja angka kejadian kelainan saraf, spina bifida, yang tertinggi di dunia, yakni Irlandia, disebabkan oleh konsumsi kentang yang sangat tinggi).

Mabuk kehamilan, menurut Profet, mungkin merupakan suatu evolusi agar mudgah tak terlalu sering mendapatkan racun alami. Ia mencontohkan bahwa wanita yang mengalami mabuk kehamilan lebih suka makan makanan yang diolah sederhana yang tak mudah busuk (seperti roti atau sereal) dan biasanya menjauhi makanan yang mengandung racun alami dalam kadar tinggi, seperti makanan pedas atau berbumbu tajam, dan makanan produk hewani yang tak segar. Teori ini juga menjelaskan mengapa mabuk kehamilan itu terjadi pada tiga bulan (trimester) pertama kehamilan. Itulah masa ketika mudgah membentuk organnya dan paling peka terhadap racun; selain itu, mudgah ketika itu masih kecil dan kalori yang dibutuhkan masih cukup dipasok dari cadangan lemak sang ibu. Secara keseluruhan, wanita yang mengalami mabuk kehamilan sedang sampai berat jarang mengalami keguguran dibandingkan dengan wanita yang mengalami mabuk ringan atau tidak mabuk sama sekali.

Subhanallah y…apa yang menurut kita buruk selama ini, belum tentu buruk di mata Allah. Pengetahuan kita sangatlah terbatas. Jauhhhh…sekali. Untuk itu kita tak pantas bersombong diri atas segala kelebihan yg telah Allah karuniakan  pada kita.

2 Kisah

October 30th, 2006 by muslimah-dr

Biarkan kaki-kakimu membawamu kemanapun yang mereka inginkan, mereka akan ajarkan kepadamu…seraya berkata kepadamu..

Tengoklah duhai kawan…tataplah…saksikan…

episode2 kehidupan yang acapkali terlewatkan…

dan mereka pun dengan senang hati bercerita…

tentang sebuah kisah..yang akan membawamu…

kepada sebuah perenungan yang dalam…

dalam tiap harinya

akan ada kisah yang berbeda pula

Entah mengapa aku senang sekali berjalan kaki (disamping menghemat ongkos), walau sebenarnya aku bisa naik kendaraan umum utk sampai ke tujuan. Namun seringkali waktu kuhabiskan utk menyusuri tepian jalan, mencari kisah2 yang terserak. Yang setiap kisah mempunyai sejuta pesan untukku…

Dan hari ini, kukembali tersadarkan

Akan makna syukur…

Tanggal 19 september 2006, pukul 18.35…setelah sholat maghrib:

Kisah pertama:

Aku bergegas meninggalkan masjid ARH-UI. Langit semakin gelap dengan bintang yang tersipu malu utk memunculkan diri. Menandakan aku secepatnya harus pulang. Duh, Akhwat kok malam-malam masih berkeliaran..(hehehe)

Bus yang kutunggu akhirnya tiba, alhamdulillah masih dapat tempat duduk…

Bus pun melaju kencang, dan aku hanya bisa menatap hiruk pikuk kehidupan jakarta, dari balik jendela kaca bus yg kunaiki….

Beberapa menit kemudian, sjumlah pengamen cilik naik, mereka mendendangkan nyanyian opick yang judulnya “astagfirullah”, hihihi…lucu, senangnya dapat mendengar senandung nasyid dari anak kecil, disamping artikulasinya yang masih ‘cadel’, ada keikhlasan yang kutangkap…

Selesai bersenandung, mereka tak langsung turun, sekedar menumpang naik utk persinggahan berikutnya…mereka mengobrol…dan apa yg mereka obrolkan itu yg membuatku kagum..

Mereka mengobrol, tapi bukan obrolan layaknya gosip2 khas jalanan atau duit mereka yg belum cukup…

Mereka berbicara ttg ramadhan…

“woii, ramadhan tinggal berapa hari lagi nih?” teriak salah datu dari mereka.

“5 hari lagi ye…minggu dah mulai”

“bukan goblok, hari senin tau…”

“eh bukan lagi…” etc

Dan percakapan2 mereka yg lain yg tak begitu jelas kutangkap karena bisingnya mesin kendaraan. Hanya mata-mata para penumpang yg mencoba mencuri pandang siapa yg berbicara, tanpa tanggapan…tanpa kata-kata.

Oh ya y…ramadhan tinggal berapa hari lagi? Batinku dalam hati. Aku bahkan tak sempat menghitung pergantian harinya, tiba-tiba saja tamu agung itu sudah di depan mata…

Wah, aku belum buat target utk ramadhan nih! Amal yaumiah harus ditingkatkan!! Aku pun mulai disibukkan pikiranku ttg ramadhan (terima kasih ya dek…telah ingatkan kakak lagi)….aku tersenyum dalam hati

Kisah kedua:

Lagi-lagi dioper! Aku paling tak suka bus oper-operan penumpang. Emang sih mereka harus memenuhi target setoran. Tapi tetap saja…udah kayak barang aja dioper-oper, belum lagi orang yg byk bawaannya…kan kasian..mana disuruh cepat-cepat karena biasanya operannya pas lampu merah, lampu ijo nyala..ditinggal deh…Hffh..jakarta…jakarta…

Sebenarnya aku tak perlu ikut turun bus, karena tujuanku jelas term.rawamangun, bukan pulogadung…tapi entah kenapa aku ikut turun y? beginilah…tiba-tiba saja kakiku membawaku menaiki bus operan, ironisnya aku baru sadar setelah bus melaju kencang (wah..wah..wah..rupanya sudah terbentuk gerak refleks dari sinaps2 di otakku)

Ya sudahlah, mau diapakan..? terpaksa aku turun di perempatan lampu merah…lalu jalan kaki sampai terminal rwmngn.

Ketika  menyebrangi jalan, aku dikejutkan oleh sebuah sapaan..

“ayu…”

“Eh..oh..hai..” aku sempat linglung melihat penampilannya, terlihat berantakan…dan aku sadar ternyata dia teman SMP-ku. Aku sempat melirik apa yg dipegangnya….sebuah gitar..?

“Hey, Lo ngamen, Nda..?”

“ya begitulah…gw bareng boy,”

“Ohhh…” aku tersenyum simpul

“Lu kuliah? Dimana..?”

“UI…” jawabku datar

“Wah, Alhamdulillah…” tak kusangka dia akan berkata seperti itu…

Belum sempat kuberbicara banyak, bus yg kunanti sudah datang…dan temanku dengan cepat menghilang di kejauhan…

Kuliah di UI…Alhamdulillah? Allah, Sudah berapa lama ya aku tak menyebutkannya? Mungkin terakhir kali swaktu melihat pengumuman SPMB…sisanya adalah keluhan2 akan banyaknya ujian sumatif dan nilai yg kurang memuaskan, serta banyaknya tugas yg menumpuk…Astagfirullah…

Hey, harusnya itu datang dari mulutku…seharusnya aku lebih sering mengucapkannya dalam kehidupanku shari2….(selain Al-Fatihah tentu)

Rabb, maafkan atas kelalaian hamba-Mu…

Yang tak pernah mensyukuri nikmat hidup…nikmat kuliah di UI, apalagi di FK…

Kawan, mungkin terlihat non-sense kisah2ku hari ini, tapi aku belajar byk…karena aku yakin, peristiwa sekecil apapun..jika kita ingin menyisihkan waktu utk merenungkannya..dia akan mengajarkan kita akan banyak hal…

Bersyukur kepada Allah

Menjaga keikhlasan-Nya

Semoga dirimu..setiap langkahmu…diiringi oleh rahmat-Nya

Alhamdulillah wa syukrulillah..bersyukur pada-Mu ya Allah…-opick

Alhamdulillah, Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah wa syukrulillah…amin.

-ayu_yg_senantiasa_belajar-

ELEGI NURANI (puisi)

October 30th, 2006 by muslimah-dr

Ng_sunset_2

Semburat jingga meronai senja

Warnai nista dalam sapaku

Hadirkan sejuta elegi dalam nurani

Menggoda batin umpama berkaca

                          Dalam galau kesendirianku

                          Kudendangkan sebuah nyanyian hati

                          Tentang seorang anak buangan zaman

Matahari adalah ibuku

Bulan dan bintang temanku

Debu dan keringat jadi santapanku

Apa peduli terhadap dunia?!

Walau tertanggal hidup pun kutakkan peduli

Karena aku hanyalah anak buangan zaman

                        Lelah hati ini

                        Sadarkan diri bagai musafir pemimpi

                        Yang berkelana dalam bayang kelam

                        Hingga kuterpisah dan tersisih

Aku terperangah dalam ilusiku

Di kebimbangan yang menuaikan cita

Dalam penantian

Kala diri kalut dalam kebisuan yang meraja

Menyisakan puing asa yang berserakan

Ditelan temaramnya lembayung senja

                        Ketika mentari telah sampai pada peraduannya

                        Kusibakkan alunan kakiku mengiringi irama Al-Ashr

                        Dan biarlah aku menatap kemilau singgasananya

                        walau sesaat

                        Dalam alunan sikap yang mengalah

                        Seraya mencoba tuk berdiri kembali

                        Karena hidup sendiri tak kenal kompromi

:.teruntuk anak zaman di perempatan jalan