Korban-Korban Tak Terlupakan

Merc_1

Korban-Korban Tak Terlupakan

Seuntai cerita dari Dr. Herman

Dalam misi kemanusiaan MER-C di tanah Ambon Manise tahun 1999

Hari berganti lagi. Detik2 tak juga mau berhenti, memberi jeda masa untuk berhela dari bau amis darah yang tumpah ruah di atas bumi. Ujung masa selalu saja kelabu. Ambon masih terus tercabik perang saudara. Pertempuran sudah terlalu sering terjadi. Genderang perang, hingar terdengar lantang, suaranya riuh rendah memenuhi lengang udara.

Saya sangat tahu kisah kelanjutannya. Perang selalu saja menghadiahkan wajah2 suram berpeluh duka. Mereka akan terus datang. Tubuh yang tercabik tajam mata pedang, kaki yg putus terkena pecahan bom, kepala tertancap anak panah, yg dipapah, ditandu, bahkan tanpa nyawa lagi. Setiap hari, jam bahkan dalam satuan menit, saya harus berhadapan dengan mereka. Dan di sini, saya banyak menemukan peristiwa2 yang menakjubkan. Korban2 dng ketahanan tubuh luar biasa, operasi2 darurat, hingga jenazah2 yg mengenaskan.

Di Jakarta, saya biasa menghadapi banyak pasien luka, berat maupun ringan, namun sgt mudah mengeluh. Berbeda dng pasien korban seteru, separah apapun lukanya, mereka jarang mengaduh bahkan meski hanya rintihan kecil. Ketenangan mengalun dlm sakit yg diderita. Mereka seperti menyimpan perih dan nyeri di kedalaman jiwa. Seringkali saya ikut larut dlm ketabahan mereka yg tak ada padanannya. Para korban pertempuran di Ambon rata2 memiliki ketenangan n ketahanan tubuh yg luar biasa.

Pernah suatu ketika, perang pecah kembali. Korban2 kembali berdatangan di RS Al-Fatah. Seperti biasa, mereka memenuhi segala sisi. Lorong, koridor, teras, sisi2 mesjid hingga ruang serbaguna. Mereka berharap sebuah penawar dan kesembuhan atas luka2 yg diderita. Tak ada waktu menunggu. Para dokter dan tenaga paramedis langsung bersegera melakukan pengecekan dan observasi awal. Saya berkeliling menjumpai mereka satu-persatu. Yang cedera ringan diserahkan kepada perawat, sdgkan yg cedera serius ditangani oleh dokter utk diberikan pertolongan pertama.

Bersandar ke dinding koridor, seorang bapak terlihat letih dan pasrah. Saya beranjak mendekatinya berharap ia baik2 saja. Sungguh, saya tak melihatnya seperti tengah menderita. Dzikir tulus yg ia gumamkan, menarik saya utk bertanya n duduk di depannya. Ia menatap saya penuh makna. Dalam.

“Bapak kenapa?” saya bertanya pelan

Masih dlm dzikir yg dialunkannya, setengah berbisik ia menjawab “Ini, saya kena di sini,” telunjuknya mengarah ke perut. Saya memandang perutnya, n baru menyadari ada darah segar yang memerahkan bajunya. Tapi saya masih menganggapnya biasa saja, karena darah yg terlihat tidaklah sebanyak yang lain. Namun perkiraan saya ternyata sgt salah. Saya tertegun ketika bapak itu membuka celana yg dikenakannya. Dng nyata, saya bisa melihat jika saat itu ususnya sdh terburai keluar!

Masya Allah! Hanya itu yg terlantunkan spontan. Saya pandangi usus n wajah syahdunya bergantian. Bgmn mgkn ia tak panik n tak mengekspresikan sebuah kesakitan yg luar biasa? Perutnya robek, sdg ia hanya diam dng ketenangan yg saya kenang sampai skrg!

Akhirnya saya mengambil keputusan utk memprioritaskan sang bapak. Melihat kondisinya, ia kemudian dibawa ke RS Tentara karena harus segera dioperasi, sdg di RS Al-Fatah peralatannya sgt terbatas. Selama dlm perjalanan, ia terlihat berdzikir n berusaha tenang. Dlm kondisi yg tak pingsan, ia terus menerus mengingat Allah, menguntaikan beribu2 asma Yang Maha Kuasa. Mungkin inilah sumber kekuatannya. Dlm ketenangannya, kami juga turut tenang. Sesampai di RST, ia segera dioperasi dan mengalami perawatan beberapa waktu.

Ada kejadian lain yg saya simpan baik2 dlm ingatan. Sebuah pembelajaran bhw memberikan pertolongan harus maksimal, sedarurat apapun keadaannya. Saat itu, korban peperangan sedang banyak2nya. Mereka tergeletak di mana saja. Salah seorang korban terkena tembakan di bagian perut. Belum cukup sampai di situ, ternyata pelurunya tembus mengenai organ limpa dan ginjal. Ia pun segera dievakuas ke RST. Kasus ini merupakan kasus bedah digestif (operasi thd organ2 dalam). Saat itu dokter bedah yg ada adalah dokter bedah umum dari RST yg sdg melakukan operasi n dokter Jose yang merupakan dokter bedah orthopedi (bedah tulang) yg tak menguasai kasus semacam ini. Namun karena keselamatan pasien adalah utama, maka korban ditangani juga oleh dokter Jose.

Kami tahu tindakan ini beresiko bahkan tergolong nekat. Namun dalam kondisi darurat n terdesak, penguasaan prinsip dasar operasi saja sudah dirasakan cukup. Dokter Jose lebih byk berimprovisasi berdasarkan ilmu bedah yg telah dikuasainya, sambil sekali2 bertanya jika ada langkah opearsi yg tak diketahuinya pada dokter bedah umum RST yg sdg melakukan operasi di ruang sebelah. Mereka saling berkomunikasi spjg operasi.

Tahukah anda seperti apa cara mereka berkomunikasi?

Berteriak. Keterbatasan sarana tak menghalangi operasi yg sdg dilakukan masing2 mereka. Pintu penghubung antar ruangan itu mjd saksi kisah mereka yg tengah melakukan tugas kemanusiaan dng saling berteriak.

“Eh, ini harus diapain?!”

“Oh ininya harus diskat.”

“Dokter setelah ini apa?!!”    

“Setelah itu baru diinikan.” Suara kedua dokter slg bersahutan, sdg tangan2 mereka begitu terampil berjuang utk nyawa berharga manusia yg berharap bisa diselamatkan. Bisa jadi karena mukjizat Allah, operasi itu berhasil menyelamatkan nyawa si pasien.

Hari terus bergulir, entah sudah berapa byk korban yg datang setelah perang berkecamuk. Bilangan jam masih terus akan berjalan. Entah sampai kapan bara nafsu permusuhan akan terhenti sama sekali. Meski demikian, saya banyak belajar. Bahwa peperangan tak pernah menguntungkan siapapun. Bahwa korban2 tak berdosa tak seharusnya berjatuhan.

Bahwa tugas kemanusiaan, di manapun akan selalu dilanjutkan. (Herman/Azi/Husnul)

:.disadur dari sebuah buku karangan Azimah Rahayu “Senja Merah di Tanah Maluku: Untaian Hikmah Misi Kemanusiaan MER-C”, penerbit: Zikrul Hakim

2 Responses to “Korban-Korban Tak Terlupakan”

  1. Huda Says:

    Hmmm… kamu anak Mer-C y?

    Aku juga pernah baca bukunya, meskipun tidak selesai. Memang mengerikan, ya, kalau manusia sudah dikuasai amarah, semua serasa tidak berharga lagi, bahkan nyawa sekalipun.

    Dulu aku juga pernah ditunjukin oleh dr. Jose Rizal video mereka waktu ke Iraq. Baru kali itu aku melihat langsung gimana para tenaga2 medis bekerja di medan perang. Dengan tenaga seadanya, dokter umum pun terpaksa ‘diupgrade’ kilat jadi dokter anestesi. Dokter bedah umum diupgrade jd bedah ortopedi, untuk menolong pejuang2 Islam di sana. Salut buat mereka. Bahkan seorang Profesor Bedah pun juga bersedia berangkat ke sana lho… ck3x.

    Tugas tenaga medis memang tugas pengabdian kepada umat manusia. Tapi semakin berat tugas yg diemban semakin besar juga balasan yg dijanjikan Allah SWT.

    Keep fighting!!

  2. Tria Cuuute Says:

    bikin aq nangis ayu…

    duh…kykna q gk bs setegar itu deh…yang ada q gk nolong mlh nangis deh…

    tugas dokter memang berat..tp gk blh dibikin berat..

    tetep semngt deh!.

Leave a Reply