Archive for January, 2007

It’s Virus! Virus is in ma’house!!

Saturday, January 20th, 2007

290606_1717   

<my guardian angels…2 brothers of mine>

Satu minggu ini merupakan minggu berat yang telah kulalui pada awal tahun 2007. Berbagai kepentingan menarikku dari segala arah. Mulai dari keluarga, akademis, organisasi, kampus, bahkan diriku sendiri.

Curhat dikit boleh dong…Hmmm, mulai dari mana yah?

Ahad, 14 Januari 2007. H-3 menjelang ujian final modul muskulo…

Selepas menghadiri suatu acara di Depok, jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB ketika aku sampai di rumah. Hhhff…capek banget…

Akhirnya aku baru mulai belajar untuk ujian malamnya. Itupun hanya diktat2 tak jelas yang kubaca…

Sementara itu, Ortuku sedang sibuk mengurusi adik terkecilku (Adam) yang kena campak (morbili/measles/rubeola)…waduh, omong2 soal campak, setahuku campak adalah penyakit infeksi virus akut yang menular secara droplet dan kontak langsung dengan penderita. Terus…Iseng2 deh kubaca di buku teksbook, ternyata virus morbili terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama stadium kataral (prodromal) sampai 24 jam setelah timbul rash/ruam di kulit.

Penyakit campak sendiri ditandai dengan 3 stadium, yaitu:

-          Stadium kataral (prodromal). Berlangsung 4-5 hari. Gejalanya menyerupai influenza (demam, malaise, batuk, fotofobia, konjungtivitis, koriza). Nah, gejala khasnya (atau biasa disebut patognomonik) adalah timbulnya bercak Koplik (berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum, dikelilingi eritema. Lokasinya di mukosa bukalis berhadapan dng molar bawah) menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sblm timbul enantem.

-          Stadium erupsi. Gejala pd stadium kataral bertambah dan timbul enantem di palatum durum dan mole. Kemudian terjadi ruam eritematosa yg berbentuk makula-papula serta meningkatnya suhu badan. Dapat terjadi perdarahan ringan, rasa gatal, dan muka bengkak.

-          Stadium konvalesensi. Gejala2 stadium kataral mulai menghilang, erupsi kulit berkurang, dan meninggalkan bekas hiperpigmentasi dan kulit bersisik (patognomonik).

Seharusnya, adikku ini diisolasi (duh, bahasany) di kamar utk mencegah penularan…namun, entah kenapa dia masih kuat utk bermain2 dan melakukan keisengan pada kakaknya yg satu ini (aduh, dek…aku mau ujian niy, jgn kau tularkan virus itu padaku T-T). Kutanya pada ibuku bagaimana pengobatannya, ternyata hanya berupa pengobatan simtomatik saja (antipiretik bila suhu tinggi, sedatif, antitusif, asupan cairan dan kalori). Selidik punya selidik lagi, ternyata adikku ini belum diimunisasi  MMR (Mumps, measles, rubeola) yg seharusnya diberikan pada usia 12-15 bulan.

Kenapa? Menurut ibuku karena vaksin ini masih terdapat kontroversi, ada/tidaknya indikasi untuk menimbulkan autisme. Oleh sebab itu di-delayed, diperkuat indikasi karena ada sepupuku yg autis, jadi utk adikku ini jangan diberikan dulu…eh, ternyata adikku ini sudah terkena duluan…so, biarkan dia membentuk kekebalan tubuhnya secara alami, Gitu… kok jadi malah belajar virus nih… *dng paniknya segera membuka kembali diktat muskulo*

Senin, 15 januari 2007…H-2 ujian muskulo

Proposal PPAA belum selesai! Tugas empati belum dikerjain! Acara Munas belum ada progressnya!! Belum belajar buat diskusi topik khusus NSAID dan Visum et Repertum!! Gimana nih, yu??! *tambah pusing*

Selasa, 16 Januari 2007…H-1 ujian muskulo

Adikku yang satu lagi (Abe, SMA) terkena campak! Gejala patognomoniknya sangat terlihat. Duh, suspect terakhir aku nih! Ternyata walau sudah diberikan vaksin waktu kecil masih bisa terkena lho…waspadalah, waspadalah!

Di kampus, hari ini adalah hari yg melelahkan, aku agak gak enak badan (apa ini pertanda aku juga kena campak?), jadi kuputuskan utk langsung pulang. Di rumah, aku mencoba utk belajar, tapi gak ada yg masuk..akhirnya aku istirahat saja, daripada besok aku benar2 sakit *berharap ujian essai tak terlalu sulit*

Malamnya, sekitar pukul 2 dini hari, aku dikejutkan oleh rasa sakit hebat pada GIT-ku (gastrointestinal tract –red). Duh, kenapa pula ini?

Dari gejala2 yg timbul, aku hanya bisa pasrah menelan tablet activated attapulgite 600 mg ke mulutku (hayoo..obat ini utk sakit apa? ;P)

Diagnosis ibuku à gangguan pencernaan akibat stres!

Rabu, 17 Januari 2007…ujian essai muskulo

Wah, soalnya susah! Tablet yg kuminum di pagi hari ternyata tak berpengaruh banyak. Tak sampai satu jam aku bertahan di ruang ujian, selebihnya aku keluar karena tak tahan (perutku sakit sekali)…dan aku baru menyadari ada beberapa soal yg kujawab keliru! Pertanyaan anamnesis  malah kujawab diagnosis! Astagfirullah…

Hari ini aku pulang cepat…totally rest at home!

Kamis, 18 Januari 2007…ujian praktikum muskulo

Anatomi, histologi, patologi….*entah bisa entah tidak*

Gangguan GIT-ku sudah agak berkurang, tapi tetap saja sesekali rasa sakit itu masih muncul. Kuputuskan utk pulang cepat juga hari ini. Berharap malamnya aku bisa belajar dngn tenang, maka aku istirahat sore harinya.

Hmm…tapi entah kenapa setelah aku istirahat, keadaanku belum membaik. Gangguan GIT sudah minimal, tapi aku malah demam dan sakit kepala. Akhirnya sepanjang malam kuhabiskan utk bed-rest…semoga gak terkena campak ya Allah, perkenankan aku mengikuti ujian besok…

Jumat, 19 Januari 2007…ujian terakhir muskulo

Kedua adikku mengalami kemajuan yang baik…Alhamdulillah aku juga sudah baikan, tapi ya itu…jadinya aku belum belajar banyak utk ujian. Soalnya memang susah, sangat aplikatif (evidence based medicine)…kok jawabanku banyak yg beda ya dari teman2 (setelah dicocokkan sehabis ujian)? Apapun hasilnya, kuserahkan semua pada-Nya…*pasrah*

Akhirnya selesai juga!

Tapi ternyata kesibukan2ku di organisasi telah menunggu…

Proposal, magang, surat, rapat, tugas, analisis, pelatihan, wawancara, dll……….

Semua menumpuk hari ini!……….

rasanya kelelahan ini mencapai puncak utk kesekian kalinya..

***

Malamnya, aku sempat merenung…

tadi sore aku belum sempat berdo’a awal tahun Hijriyah (Muharram)..hiks2, lupa karena kesibukanku..Allah, maafkan aku…

tak terasa air mata ini pun menetes perlahan…

Allah, berapa byk kekhilafanku hari ini?

Sabtu, 20 Januari 2007…

Kudapati adikku adam sakit lagi..tapi kali ini penyakitnya bukan campak, melainkan parotitis epidemika (mumps, gondong)!! Aduh, kasihan dia, cepat sembuh ya dik…*merindukan kejahilannya*

Tergelitik dengan kasus adikku, aku mulai membuka buku2 ttg penyakit tropik infeksi pd anak.

Pc260015_17

Parotitis epidemika adalah penyakit akut virus golongan paramyxovirus, menular melalui saluran napas dng gejala khas pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis. Gejala prodromal 1-2 hari berupa demam, anoreksia, sakit kepala, muntah, dan nyeri otot. Kemudian timbul pembengkakan kel. Parotis (dari unilateral bisa mjd bilateral) disertai rasa nyeri spontan atau pada saat pasien makan/minum sesuatu yg asam. Penatalaksanaannya berupa istirahat di tempat tidur selama masih demam dan pembengkakan masih ada. Utk simtomatik diberikan kompres demam atau dingin, bisa juga analgesik. Diet makanan cair atau lunak tergantung dari kemampuannya menelan. Sejauh ini terapi yg diberikan pada adikku hanya berupa terapi supportif. Semoga cepat sembuh ya, my lovely brother…=)

Yah…banyaknya kejadian satu minggu ini menjadi sarana pembelajaran bagiku. Pahit manis kehidupan sedikitnya bisa kurasakan. Buah keterbatasan seorang manusia di hadapan Khaliknya…

Semoga besok bisa lebih baik…amiin…

"kesulitan tidak akan begitu sulit jika kita mengatasinya sedikit demi sedikit. Selain itu semakin cepat kita menyadari hikmah yang kita peroleh dari pengalaman itu, semakin mudah bagi kita untuk menghadapinya" (Andrew Matthews)

-Ayu-

Korban-Korban Tak Terlupakan

Saturday, January 6th, 2007

Merc_1

Korban-Korban Tak Terlupakan

Seuntai cerita dari Dr. Herman

Dalam misi kemanusiaan MER-C di tanah Ambon Manise tahun 1999

Hari berganti lagi. Detik2 tak juga mau berhenti, memberi jeda masa untuk berhela dari bau amis darah yang tumpah ruah di atas bumi. Ujung masa selalu saja kelabu. Ambon masih terus tercabik perang saudara. Pertempuran sudah terlalu sering terjadi. Genderang perang, hingar terdengar lantang, suaranya riuh rendah memenuhi lengang udara.

Saya sangat tahu kisah kelanjutannya. Perang selalu saja menghadiahkan wajah2 suram berpeluh duka. Mereka akan terus datang. Tubuh yang tercabik tajam mata pedang, kaki yg putus terkena pecahan bom, kepala tertancap anak panah, yg dipapah, ditandu, bahkan tanpa nyawa lagi. Setiap hari, jam bahkan dalam satuan menit, saya harus berhadapan dengan mereka. Dan di sini, saya banyak menemukan peristiwa2 yang menakjubkan. Korban2 dng ketahanan tubuh luar biasa, operasi2 darurat, hingga jenazah2 yg mengenaskan.

Di Jakarta, saya biasa menghadapi banyak pasien luka, berat maupun ringan, namun sgt mudah mengeluh. Berbeda dng pasien korban seteru, separah apapun lukanya, mereka jarang mengaduh bahkan meski hanya rintihan kecil. Ketenangan mengalun dlm sakit yg diderita. Mereka seperti menyimpan perih dan nyeri di kedalaman jiwa. Seringkali saya ikut larut dlm ketabahan mereka yg tak ada padanannya. Para korban pertempuran di Ambon rata2 memiliki ketenangan n ketahanan tubuh yg luar biasa.

Pernah suatu ketika, perang pecah kembali. Korban2 kembali berdatangan di RS Al-Fatah. Seperti biasa, mereka memenuhi segala sisi. Lorong, koridor, teras, sisi2 mesjid hingga ruang serbaguna. Mereka berharap sebuah penawar dan kesembuhan atas luka2 yg diderita. Tak ada waktu menunggu. Para dokter dan tenaga paramedis langsung bersegera melakukan pengecekan dan observasi awal. Saya berkeliling menjumpai mereka satu-persatu. Yang cedera ringan diserahkan kepada perawat, sdgkan yg cedera serius ditangani oleh dokter utk diberikan pertolongan pertama.

Bersandar ke dinding koridor, seorang bapak terlihat letih dan pasrah. Saya beranjak mendekatinya berharap ia baik2 saja. Sungguh, saya tak melihatnya seperti tengah menderita. Dzikir tulus yg ia gumamkan, menarik saya utk bertanya n duduk di depannya. Ia menatap saya penuh makna. Dalam.

“Bapak kenapa?” saya bertanya pelan

Masih dlm dzikir yg dialunkannya, setengah berbisik ia menjawab “Ini, saya kena di sini,” telunjuknya mengarah ke perut. Saya memandang perutnya, n baru menyadari ada darah segar yang memerahkan bajunya. Tapi saya masih menganggapnya biasa saja, karena darah yg terlihat tidaklah sebanyak yang lain. Namun perkiraan saya ternyata sgt salah. Saya tertegun ketika bapak itu membuka celana yg dikenakannya. Dng nyata, saya bisa melihat jika saat itu ususnya sdh terburai keluar!

Masya Allah! Hanya itu yg terlantunkan spontan. Saya pandangi usus n wajah syahdunya bergantian. Bgmn mgkn ia tak panik n tak mengekspresikan sebuah kesakitan yg luar biasa? Perutnya robek, sdg ia hanya diam dng ketenangan yg saya kenang sampai skrg!

Akhirnya saya mengambil keputusan utk memprioritaskan sang bapak. Melihat kondisinya, ia kemudian dibawa ke RS Tentara karena harus segera dioperasi, sdg di RS Al-Fatah peralatannya sgt terbatas. Selama dlm perjalanan, ia terlihat berdzikir n berusaha tenang. Dlm kondisi yg tak pingsan, ia terus menerus mengingat Allah, menguntaikan beribu2 asma Yang Maha Kuasa. Mungkin inilah sumber kekuatannya. Dlm ketenangannya, kami juga turut tenang. Sesampai di RST, ia segera dioperasi dan mengalami perawatan beberapa waktu.

Ada kejadian lain yg saya simpan baik2 dlm ingatan. Sebuah pembelajaran bhw memberikan pertolongan harus maksimal, sedarurat apapun keadaannya. Saat itu, korban peperangan sedang banyak2nya. Mereka tergeletak di mana saja. Salah seorang korban terkena tembakan di bagian perut. Belum cukup sampai di situ, ternyata pelurunya tembus mengenai organ limpa dan ginjal. Ia pun segera dievakuas ke RST. Kasus ini merupakan kasus bedah digestif (operasi thd organ2 dalam). Saat itu dokter bedah yg ada adalah dokter bedah umum dari RST yg sdg melakukan operasi n dokter Jose yang merupakan dokter bedah orthopedi (bedah tulang) yg tak menguasai kasus semacam ini. Namun karena keselamatan pasien adalah utama, maka korban ditangani juga oleh dokter Jose.

Kami tahu tindakan ini beresiko bahkan tergolong nekat. Namun dalam kondisi darurat n terdesak, penguasaan prinsip dasar operasi saja sudah dirasakan cukup. Dokter Jose lebih byk berimprovisasi berdasarkan ilmu bedah yg telah dikuasainya, sambil sekali2 bertanya jika ada langkah opearsi yg tak diketahuinya pada dokter bedah umum RST yg sdg melakukan operasi di ruang sebelah. Mereka saling berkomunikasi spjg operasi.

Tahukah anda seperti apa cara mereka berkomunikasi?

Berteriak. Keterbatasan sarana tak menghalangi operasi yg sdg dilakukan masing2 mereka. Pintu penghubung antar ruangan itu mjd saksi kisah mereka yg tengah melakukan tugas kemanusiaan dng saling berteriak.

“Eh, ini harus diapain?!”

“Oh ininya harus diskat.”

“Dokter setelah ini apa?!!”    

“Setelah itu baru diinikan.” Suara kedua dokter slg bersahutan, sdg tangan2 mereka begitu terampil berjuang utk nyawa berharga manusia yg berharap bisa diselamatkan. Bisa jadi karena mukjizat Allah, operasi itu berhasil menyelamatkan nyawa si pasien.

Hari terus bergulir, entah sudah berapa byk korban yg datang setelah perang berkecamuk. Bilangan jam masih terus akan berjalan. Entah sampai kapan bara nafsu permusuhan akan terhenti sama sekali. Meski demikian, saya banyak belajar. Bahwa peperangan tak pernah menguntungkan siapapun. Bahwa korban2 tak berdosa tak seharusnya berjatuhan.

Bahwa tugas kemanusiaan, di manapun akan selalu dilanjutkan. (Herman/Azi/Husnul)

:.disadur dari sebuah buku karangan Azimah Rahayu “Senja Merah di Tanah Maluku: Untaian Hikmah Misi Kemanusiaan MER-C”, penerbit: Zikrul Hakim

Sebuah Do’a

Friday, January 5th, 2007

Icon_pray_r

“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya. Di dalam ucapanku cahaya. Jadikanlah pada pendengaranku cahaya. Jadikanlah pada penglihatanku cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya. Jadikanlah dari atasku cahaya. Dari bawahku cahaya. Ya Allah berikanlah kepadaku cahaya dan jadikanlah aku cahaya.”

(HR Muslim dan Abu Daud)