Archive for October, 2006

Dermaga Hati

Monday, October 30th, 2006

Padahal kulihat, bukan hanya satu.
pelabuhan tenang yang mau menerima.
kehadiran kapalmu!


Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk
selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

( Judul Puisi " Pelabuhan " karya Tyas Tatanka,
kumpulan puisi 7 penyair serang)

:. Untuk seseorang yg saat ini memintaku tuk jadi pelabuhannya, maaf…aku belum bisa menjadi pelabuhan hatimu utk berlabuh…

Mual pada Kehamilan, Mekanisme Protektif!!

Monday, October 30th, 2006

Hari ini aku membuka kembali buku ”Complication” karya Atul Gawande yang belum sempat kuselesaikan karena kesibukan kampus. Salah satunya ia membahas tentang mual pada masa kehamilan. Nice to read!

Apakah perasaan mual yang begitu aneh dan menyiksa itu? Masalah ini kurang mendapat perhatian dalam pendidikan dokter, padahal muntah merupakan keluhan yg paling sering, setelah nyeri, yang membuat orang pergi ke dokter. Gejala ini juga merupakan efek samping yang khas dari obat. Untuk pasien bedah, muntah setelah pembiusan juga merupakan hal yang biasa sehingga baskom khusus untuk muntah harus selalu tersedia di samping tempat tidur di ruang pemulihan. Sebagian besar pasien yang mendapatkan kemoterapi selalu mengalami mual, dan mereka selalu mengatakan bahwa itu adalah bagian yang terburuk dari pengobatannya. Sekitar 60-85% wanita hamil mengalami mabuk pagi atau ”morning sickness”, dan sepertiga dari mereka yang bekerja terpaksa tak masuk kerja karena perasaan mual ini. Pada sekitar

lima

dari seribu wanita hamil, kondisinya sangat berat sehingga menyebabkan penurunan berat badan yang cukup besar—keadaan ini disebut hiperemesis kehamilan.

Rasa mual dan muntah yang sangat tidak menyenangkan itu memang ada manfaatnya secara biologis. Muntah setelah memakan sesuatu yang beracun atau yang busuk jelas ada manfaatnya; racun itu dikeluarkan. Dan perasaan tak enak akibat mual yang biasanya menyertai kejadian itu membuat kita takkan mau makan makanan seperti itu lagi. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak obat, kemoterapi, dan anestetik umum sering menimbulkan mual dan muntah: semua itu barang beracun—walau yang digunakan secara terkendali—dan tubuh manusia dirancang untuk menolaknya.

Sulit untuk menjelaskan mengapa beberapa hal menyebabkan mual dan muntah, tetapi para ilmuwan mulai menyadari adanya kewajaran dalam rancangan alam. Kita mengira bahwa mabuk kehamilan, misalnya, merupakan suatu keadaan yang secara evolusi merugikan, sebab mudgah (embrio) yang sedang tumbuh itu memerlukan zat gizi. Namun, dalam sebuah tulisan terkenal pada tahun 1992, seorang ahli biologi evolusi, Margie Profet, mengemukakan argumentasi bahwa mabuk kehamilan sebenarnya sesuatu yang bersifat melindungi. Ia mengatakan bahwa makanan alami yang aman untuk orang dewasa sering tak aman untuk mudgah.

Semua tanaman menghasilkan racun, dan dalam upaya agar kita dapat memakannya, tubuh berevolusi mengembangkan sistem penetralan racun (detoksifikasi). Tetapi, sistem ini tak menyingkirkan racun kimiawi secara keseluruhan, dan mudgah bisa jadi peka terhadap jumlah racun yang sangat kecil. (Sebagai contoh, racun kentang terbukti dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan syaraf pada janin hewan, walaupun pada kadar yang tak meracuni induknya; mungkin saja angka kejadian kelainan saraf, spina bifida, yang tertinggi di dunia, yakni Irlandia, disebabkan oleh konsumsi kentang yang sangat tinggi).

Mabuk kehamilan, menurut Profet, mungkin merupakan suatu evolusi agar mudgah tak terlalu sering mendapatkan racun alami. Ia mencontohkan bahwa wanita yang mengalami mabuk kehamilan lebih suka makan makanan yang diolah sederhana yang tak mudah busuk (seperti roti atau sereal) dan biasanya menjauhi makanan yang mengandung racun alami dalam kadar tinggi, seperti makanan pedas atau berbumbu tajam, dan makanan produk hewani yang tak segar. Teori ini juga menjelaskan mengapa mabuk kehamilan itu terjadi pada tiga bulan (trimester) pertama kehamilan. Itulah masa ketika mudgah membentuk organnya dan paling peka terhadap racun; selain itu, mudgah ketika itu masih kecil dan kalori yang dibutuhkan masih cukup dipasok dari cadangan lemak sang ibu. Secara keseluruhan, wanita yang mengalami mabuk kehamilan sedang sampai berat jarang mengalami keguguran dibandingkan dengan wanita yang mengalami mabuk ringan atau tidak mabuk sama sekali.

Subhanallah y…apa yang menurut kita buruk selama ini, belum tentu buruk di mata Allah. Pengetahuan kita sangatlah terbatas. Jauhhhh…sekali. Untuk itu kita tak pantas bersombong diri atas segala kelebihan yg telah Allah karuniakan  pada kita.

2 Kisah

Monday, October 30th, 2006

Biarkan kaki-kakimu membawamu kemanapun yang mereka inginkan, mereka akan ajarkan kepadamu…seraya berkata kepadamu..

Tengoklah duhai kawan…tataplah…saksikan…

episode2 kehidupan yang acapkali terlewatkan…

dan mereka pun dengan senang hati bercerita…

tentang sebuah kisah..yang akan membawamu…

kepada sebuah perenungan yang dalam…

dalam tiap harinya

akan ada kisah yang berbeda pula

Entah mengapa aku senang sekali berjalan kaki (disamping menghemat ongkos), walau sebenarnya aku bisa naik kendaraan umum utk sampai ke tujuan. Namun seringkali waktu kuhabiskan utk menyusuri tepian jalan, mencari kisah2 yang terserak. Yang setiap kisah mempunyai sejuta pesan untukku…

Dan hari ini, kukembali tersadarkan

Akan makna syukur…

Tanggal 19 september 2006, pukul 18.35…setelah sholat maghrib:

Kisah pertama:

Aku bergegas meninggalkan masjid ARH-UI. Langit semakin gelap dengan bintang yang tersipu malu utk memunculkan diri. Menandakan aku secepatnya harus pulang. Duh, Akhwat kok malam-malam masih berkeliaran..(hehehe)

Bus yang kutunggu akhirnya tiba, alhamdulillah masih dapat tempat duduk…

Bus pun melaju kencang, dan aku hanya bisa menatap hiruk pikuk kehidupan jakarta, dari balik jendela kaca bus yg kunaiki….

Beberapa menit kemudian, sjumlah pengamen cilik naik, mereka mendendangkan nyanyian opick yang judulnya “astagfirullah”, hihihi…lucu, senangnya dapat mendengar senandung nasyid dari anak kecil, disamping artikulasinya yang masih ‘cadel’, ada keikhlasan yang kutangkap…

Selesai bersenandung, mereka tak langsung turun, sekedar menumpang naik utk persinggahan berikutnya…mereka mengobrol…dan apa yg mereka obrolkan itu yg membuatku kagum..

Mereka mengobrol, tapi bukan obrolan layaknya gosip2 khas jalanan atau duit mereka yg belum cukup…

Mereka berbicara ttg ramadhan…

“woii, ramadhan tinggal berapa hari lagi nih?” teriak salah datu dari mereka.

“5 hari lagi ye…minggu dah mulai”

“bukan goblok, hari senin tau…”

“eh bukan lagi…” etc

Dan percakapan2 mereka yg lain yg tak begitu jelas kutangkap karena bisingnya mesin kendaraan. Hanya mata-mata para penumpang yg mencoba mencuri pandang siapa yg berbicara, tanpa tanggapan…tanpa kata-kata.

Oh ya y…ramadhan tinggal berapa hari lagi? Batinku dalam hati. Aku bahkan tak sempat menghitung pergantian harinya, tiba-tiba saja tamu agung itu sudah di depan mata…

Wah, aku belum buat target utk ramadhan nih! Amal yaumiah harus ditingkatkan!! Aku pun mulai disibukkan pikiranku ttg ramadhan (terima kasih ya dek…telah ingatkan kakak lagi)….aku tersenyum dalam hati

Kisah kedua:

Lagi-lagi dioper! Aku paling tak suka bus oper-operan penumpang. Emang sih mereka harus memenuhi target setoran. Tapi tetap saja…udah kayak barang aja dioper-oper, belum lagi orang yg byk bawaannya…kan kasian..mana disuruh cepat-cepat karena biasanya operannya pas lampu merah, lampu ijo nyala..ditinggal deh…Hffh..jakarta…jakarta…

Sebenarnya aku tak perlu ikut turun bus, karena tujuanku jelas term.rawamangun, bukan pulogadung…tapi entah kenapa aku ikut turun y? beginilah…tiba-tiba saja kakiku membawaku menaiki bus operan, ironisnya aku baru sadar setelah bus melaju kencang (wah..wah..wah..rupanya sudah terbentuk gerak refleks dari sinaps2 di otakku)

Ya sudahlah, mau diapakan..? terpaksa aku turun di perempatan lampu merah…lalu jalan kaki sampai terminal rwmngn.

Ketika  menyebrangi jalan, aku dikejutkan oleh sebuah sapaan..

“ayu…”

“Eh..oh..hai..” aku sempat linglung melihat penampilannya, terlihat berantakan…dan aku sadar ternyata dia teman SMP-ku. Aku sempat melirik apa yg dipegangnya….sebuah gitar..?

“Hey, Lo ngamen, Nda..?”

“ya begitulah…gw bareng boy,”

“Ohhh…” aku tersenyum simpul

“Lu kuliah? Dimana..?”

“UI…” jawabku datar

“Wah, Alhamdulillah…” tak kusangka dia akan berkata seperti itu…

Belum sempat kuberbicara banyak, bus yg kunanti sudah datang…dan temanku dengan cepat menghilang di kejauhan…

Kuliah di UI…Alhamdulillah? Allah, Sudah berapa lama ya aku tak menyebutkannya? Mungkin terakhir kali swaktu melihat pengumuman SPMB…sisanya adalah keluhan2 akan banyaknya ujian sumatif dan nilai yg kurang memuaskan, serta banyaknya tugas yg menumpuk…Astagfirullah…

Hey, harusnya itu datang dari mulutku…seharusnya aku lebih sering mengucapkannya dalam kehidupanku shari2….(selain Al-Fatihah tentu)

Rabb, maafkan atas kelalaian hamba-Mu…

Yang tak pernah mensyukuri nikmat hidup…nikmat kuliah di UI, apalagi di FK…

Kawan, mungkin terlihat non-sense kisah2ku hari ini, tapi aku belajar byk…karena aku yakin, peristiwa sekecil apapun..jika kita ingin menyisihkan waktu utk merenungkannya..dia akan mengajarkan kita akan banyak hal…

Bersyukur kepada Allah

Menjaga keikhlasan-Nya

Semoga dirimu..setiap langkahmu…diiringi oleh rahmat-Nya

Alhamdulillah wa syukrulillah..bersyukur pada-Mu ya Allah…-opick

Alhamdulillah, Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah wa syukrulillah…amin.

-ayu_yg_senantiasa_belajar-

ELEGI NURANI (puisi)

Monday, October 30th, 2006

Ng_sunset_2

Semburat jingga meronai senja

Warnai nista dalam sapaku

Hadirkan sejuta elegi dalam nurani

Menggoda batin umpama berkaca

                          Dalam galau kesendirianku

                          Kudendangkan sebuah nyanyian hati

                          Tentang seorang anak buangan zaman

Matahari adalah ibuku

Bulan dan bintang temanku

Debu dan keringat jadi santapanku

Apa peduli terhadap dunia?!

Walau tertanggal hidup pun kutakkan peduli

Karena aku hanyalah anak buangan zaman

                        Lelah hati ini

                        Sadarkan diri bagai musafir pemimpi

                        Yang berkelana dalam bayang kelam

                        Hingga kuterpisah dan tersisih

Aku terperangah dalam ilusiku

Di kebimbangan yang menuaikan cita

Dalam penantian

Kala diri kalut dalam kebisuan yang meraja

Menyisakan puing asa yang berserakan

Ditelan temaramnya lembayung senja

                        Ketika mentari telah sampai pada peraduannya

                        Kusibakkan alunan kakiku mengiringi irama Al-Ashr

                        Dan biarlah aku menatap kemilau singgasananya

                        walau sesaat

                        Dalam alunan sikap yang mengalah

                        Seraya mencoba tuk berdiri kembali

                        Karena hidup sendiri tak kenal kompromi

:.teruntuk anak zaman di perempatan jalan

Racikan Obat Pertamaku!!

Monday, October 30th, 2006

6 september 2006

dua minggu sudah modul tumbuh kembang ini berjalan, semakin banyak yang kuketahui tentang ilmu kesehatan anak….semakin aku kagum atas kebesaran Sang Pencipta…semuanya begitu sempurna…tertata rapi…semua berdzikir pada tempatnya…Subhanallah…

ada cerita sewaktu praktikum di dept. farmasi…mengenai obat, waktu itu kita diajarkan untuk membuat puyer anak dengan berat badan 10 kg, dalam bentuk sediaan obat pulveres dan kapsul…disana ketelitian kita dalam menulis resep dan membuat takarannya sangat penting. saya ingat wejangan yang disampaikan oleh salah seorang dosen farmasi,"semua obat itu adalah racun, jika kita memberi obat kepada seseorang, maka sebenarnya kita memberi racun…bisa jadi sang pasien meninggal dengan obat yg kita berikan, jadi disini profesionalisme kalian sebagai seorang dokter dalam hal memberikan suatu resep obat dng takaran yg tepat sangat diuji," saya langsung merinding mendengarnya…itu baru dalam hal penulisan resep (katanya salah tulis satu titik aja bisa berakibat fatal, karena ada kodenya)…bagaimana nanti jika kita bedah orang ya..?

maka…dimulainya praktikum yang berdurasi 2 jam tersebut. menyenangkan!!…meskipun punggung jadi pegal karena terlalu lama membungkuk utk menakar obat (saya jadi salut ama apoteker2 yg kerja di apotek,setiap hari harus menakar obat). ternyata tak susah membuat obat puyer, bahan obatnya adalah paracetamol (antipiuretik), dextrometorphan (antitussive), serta saccharum lactis (netral)…masing-masing dengan takarannya…

membungkus puyer juga ada tekniknya, saya sempat menjatuhkan obat puyernya lantaran susah membungkus…hehehe…untung obat puyer itu obat percobaan, tak boleh dikasih ke orang (iyalah!namanya juga praktikum)

praktikum kedua, membuat minyak telon bayi!! tentunya dalam sediaan linimentum (cair)…bahan2nya sederhana, yaitu oleum foeniculi, oleum cajuputi, dan oleum olivarium (minyak zaitun, bisa diganti oleum cocos)…tinggal dicampur dengan takaran yang sama lalu kocok…jadi deh..dan yang ini boleh dibawa pulang..senangnya! (saking mudahnya saya jadi teringat berita di tv ttg pembuatan minyak gosok palsu yg dicampur dng fernitin…naudzubillah,segitu parahkah?)

yah, emang simpel sih, semua orang juga bisa melakukannya kok…tapi saya puas karena pengetahuan saya bertambah…dari menulis resep, membuat puyer, minyak telon…memotivasi saya utk lebih giat lagi belajar…untuk menjadi dokter yg bermanfaat utk umat…Allah, bantu saya…

kapan2 saya cerita lagi…sebenarnya banyak cerita di FKUI tercinta…begitu banyak hikmah yg dapat diambil…

saya cinta ilmu…saya akan terus belajar, saya akan terus memahami, dan akan saya terus amalkan…amiin…

tak cinta maka tak bisa, maka cintailah ilmu dng sepenuh hati…=)

*the best of you are the most contributed 4 others*

-ayu-

sang fakir ilmu

Nikmatnya Lelah

Monday, October 30th, 2006

Ng_hiking

"Layaknya pendaki gunung, ia pasti teramat lelah mendaki, namun rasa lelah takkan dirasakannya lagi ketika ia telah sampai pada tujuannya.." -ayu-

Assalamu’alaikum…

untuk kesekian kalinya ku menghela nafas di depan komputer, Hhhfff…minggu ini banyak juga deadline yg harus kupenuhi, liburan 2 bulan benar2 tak terasa…tetap saja pulang pergi ke kampus…minggu depan modul baru menunggu, tentunya dengan tingkat beban yg akan berbeda pula…(sst, ada KKDnya lho…)

entah berapa helaan nafas yg sudah kukeluarkan…hanya sekedar merasai lelah ini…ingin berhenti..? Ooo..kata itu sgt mematikan kreativitas, aku akan berpikir seribu kali jika ingin berhenti…

kenapa? katanya lelah..?

hehehe, lelah…? iya…tapi lelah ini lelah nikmat, karena lelahku lelah dlm menghasilkan manfaat…bukan sekedar lelah yg membuat lesu…aku tahu tujuan lelahku..

aku tersenyum di depan komputer. layar masih tetap kosong (utk buat artikel deadline)…tapi, siapa tahu..? ide itu seakan udara di sekitar kita…kita tahu ia ada, tapi tak terlihat…..dan pikiranku sedang mencari hembusan ide itu…still waiting…

hari ini aku lelah..

tapi aku bahagia…

terima kasih Allah karena telah memberiku lelah…

dan aku tetap mencoba

menjadi orang yg selalu bersyukur atas keadaan diri…

Wassalamu’alaikum

Dua Pilihan (Cerita)

Monday, October 30th, 2006

Po0h_imut_ma_piglet

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat,
ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato
yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah
mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

‘Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala
proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami.
Namun tidak de mikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat
mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah,
bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? ‘

Para

peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak
seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir
satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana
orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:

Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang
anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka
akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu
tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun
aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam
tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan
untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat
ikut dal am tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat
sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah
babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan
mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti’

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim
dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam
hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira
karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa s kor, namun masih
ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan
bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia
sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada
dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku
melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay
mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk
mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi
pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan

kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan
mereka?

Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.

Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan
tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi
berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang

pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan

menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil

beberapa lang kah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay
paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama
meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput.

Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar

bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah
bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah
pitcher.

Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja

dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan
permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari
jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak
"Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup
Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base
pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia
terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua.
Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu
di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat
itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali
dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua
Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun
dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati
jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pe main lawan berlari ke arahnya dan
memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay
menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang
berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay
berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero
yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya. 

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di

wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang
tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim
dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana
dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia,
dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang
pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

~the best of you are the most contributed for others~

-0105001332-

Sisi Lain Kedokteran

Monday, October 30th, 2006

Doctor1 Assalamu’alaikum Wr. Wb

sebenarnya aku terilhami oleh tulisan Atul Gawande, seorang residen bedah di sebuah RS di Boston…ia menulis banyak tentang pengalamannya dalam spesialisasi bedah tersebut..

Beberapa hal yg dapat kuceritakan…bahwa ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. taruhannya begitu tinggi, kewenangan yg diambil begitu besar. kita cekoki orang dengan obat, kita masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kita kutak-katik tubuh mereka secara fisik, biologis, dan kimiawi, kita buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya utk dilihat semua orang…dan kita melakukan semua itu dengan keyakinan yg mantap tentang ketrampilan kita sbg profesional…tapi, bila kita amati lebih dekat, maka akan tampak betapa kacau, tak pasti, dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran ini…

yang masih mengejutkan bagiku adl betapa sgt manusiawinya upaya itu. biasanya, bila kita ingat ilmu kedokteran n manfaatnya yg menonjol…maka yg terbayang adl betapa ilmu itu telah membantu kita memerangi penyakit dan kesengsaraan: berbagai pemeriksaan, alat bantu, obat, dan pengobatan..semua itu adl inti dari hampir semua yg dcapai oleh dunia kedokteran.

Sayangnya, jarang sekali kita mempertanyakan bagaimana semuanya itu bisa terjadi. bila batuk Anda tak kunjung sembuh–apa yg Anda lakukan? Anda tak mencari ilmunya, tetapi mencari dokter. seorang dokter yg kadang bisa mujur dan kadang bisa sial. seorang dokter dng tawa aneh dan potongan rambut jelek. seorang dokter yg selalu tergesa, dan tentu saja, dng kesenjangan antara pengetahuan n ketrampilannya ia tetap mencoba belajar…

kita memandang ilmu kedokteran sbg pengetahuan dan upaya yg bertatanan. Nyatanya tidaklah demikian. ilmu kedokteran adl suatu ilmu yg tak sempurna, berisi pengetahuan yg senantiasa berubah, informasi yg tak pasti, dng orang2 yg sgt mudah berbuat salah, yg bekerja sama…

yang tampaknya paling menarik dan penting bukanlah pada seberapa banyak yg kita ketahui dlm dunia kedokteran, tetapi pada seberapa banyak yg tidak diketahui dan bagaimana kita dapat menyiasati ketidaktahuan itu secara lebih bijak…

Akhir kata, mengapa aku sangaaat tertarik pada dunia kedokteran ini (terutama pada praktiknya) adalah ketika bagaimana sebuah kesederhanaan ilmu harus berhadapan dengan rumitnya kehidupan seseorang….dari situlah kita bisa banyak belajar…mendekatkan diri pada Sang Pencipta tubuh manusia tersebut…dan berusaha memahami hakikat di balik semua itu…

Wallahu ‘a’lam…

Nb: tuk semua calon2 dokter di FKUI, rekan2 sejawatku…mari berjuang tuk jadi yg terbaik..be a seven star doctor!! semangat!!!!

-0105001332-